Showing posts with label Ilmuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmuan. Show all posts

Friday, November 21, 2014

Ilmuwan Temukan Baterai Panjang Umur

Ilmuwan Temukan Baterai Panjang Umur 

Umumnya, sebuah baterai ponsel hanya bisa bertahan normal selama pemakaian 2-3 tahun. Namun seorang ilmuwan berhasil menemukan baterai yang bisa dipakai sampai 20 tahun.

Teknologi itu ditemukan sekelompok peneliti dari Nanyang Technological University Singapura yang dimpimpin Profesor Chen Xiaodong. Bukan cuma tahan lama, tapi juga durasi pengisian ulang yang lebih cepat. Istilah ini akrab disebut fast charging.

Dengan pengisian daya selama 2 menit, baterai tersebut bisa terisi hingga 70 persen. Seperi dikutip CNN Indonesia dari siaran pers, Rabu (15/10).

"Dengan teknologi kami, mobil elektrik bisa meningkatkan jarak tempuhnya secara signifikan hanya dengan lima menit pengisian ulang," kata Xiaodong.

Kunci baterai itu terletak pada stuktrurnya yang tidak menggunakan bahan grafit seperti baterai saat ini. Para peneliti menggantinya dengan gel titanium dioksida yang biasa dipakai sebagai zat tambahan makanan atau krim tabir surya.

Gel titanium diklaim lebih murah, dan lebih mudah ditemukan. Pada baterai zat ini diletakan di dalam tabung berukuran sangat kecil (nanotube) yang konon seribu kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Sulit dibayangkan.

Hingga kini teknologi baterai tersebut masih dikembangkan, dan diperkirakan bisa mulai dikomersilkan sekitar dua tahun mendatang. 


Ilmuwan Ciptakan Alat Pembaca Pikiran

Ilmuwan Ciptakan Alat Pembaca Pikiran 

Layaknya konsep telepati, tim peneliti dari University of Washington, Amerika Serikat berhasil menghubungkan otak dari dua orang dan mampu untuk berkomunikasi tanpa bicara.

"Studi baru ini menciptakan paradigma pertemuan otak ke otak, yang awalnya hanya demonstrasi biasa menjadi teknologi berkonsep penyampaian," ujar profesor dari University of Washington Andrea Stocco.

Studi baru yang mengikutsertakan enam orang berpasangan, memindahkan sinyal dari otak satu orang melalui internet untuk mengontrol pergerakan tangan pasangannya yang berada di radius 800 meter.

Agar berhasil, para peneliti memasangkan mesin electroencephalography (EEG) pada satu orang (si pengirim) di tiap pasangan untuk membaca aktivitas otak mereka.

Gelombang otak mereka kemudian diubah menjadi 'nadi' elektris dan mengirimnya melalui web kepada pasangannya (si penerima) yang sudah menggunakan semacam topi renang, lengkap dengan belitan stimulasi magnet transkranial di bagian otak yang mengatur pergerakan tangan.

Dengan kata lain, pikiran si pengirim dapat ditafsirkan oleh si penerima menjadi pergerakan tangan dalam hitungan detik.

Dalam percobaan tersebut, tiga pengirim sedang bermain game di komputer dimana mereka harus melempar meriam untuk menghadang roket. Mereka tidak bisa melakukan itu semua, jadi mereka cukup memikirkan apa yang harus dilakukan dan sinyal tersebut sampai ke si penerima.

Para penerima tidak bisa melihat permainan tersebut, tapi tangan mereka melayang-layang di atas alas sentuh, seakan-akan mereka sedang melempari meriam tersebut sesuai pikiran si pengirim.

Tim peneliti kemudian didanai US$ 1 juta untuk mengembangkan koneksi otak lebih mendalam lagi agar mereka dapat menyampaikan gambaran dan informasi dari otak ke otak.

Mereka berharap nantinya dapat memantau pilot pesawat terbang yang sedang mengantuk dan menstimulasi otaknya menggunakan koneksi tersebut.

Koneksi otak ini bukan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, peneliti dari Harvard Medical School, Starlab Barcelona dari Spanyol, dan Axilum Robotics dari Perancis bekerjasama dalam pengiriman pesan antar otak dengan jarak yang fantastis, yaitu dari India ke Perancis.