Showing posts with label Masa Depan. Show all posts
Showing posts with label Masa Depan. Show all posts

Friday, January 23, 2015

Hologram ala Microsoft yang Super Keren





http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr1a.jpg
HoloLens bisa dibilang masuk dalam kategori headset virtual reality, tapi kedua lensanya tembus pandang dan bisa menampilkan gambar hologram

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr1aa.jpg
Bagi desainer, HoloLens diklaim bakal bisa membantu menampilkan gambar hologram 3D, sembari tetap mengerjakan desain di layar komputer miliknya

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr2.jpg
Dengan HoloLens, pengguna juga bakal bisa mensimulasikan bentuk suatu benda.

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr3.jpg
 Melihat peta juga bakal menarik menggunakan HoloLens karena pengguna seakan melihatnya langsung dari atas.

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr4.jpg
 Serunya lagi, pengguna juga akan bisa mensimulasikan kondisi di planet Mars melalui kaca HoloLens. 

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr5.jpg
 Berkat HoloLens menggunakan komputer pun bakal semakin mengasyikkan.

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr6.jpg
Pengguna juga bisa memainkan game Minecraft ‘langsung’ di ruang keluarga.

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr7.jpg
 HoloLens nantinya juga bisa digunakan untuk melakukan video call lewat Skype. Tampilan video chat bisa terlihat dari kedua lensa HoloLens.

http://images.detik.com/content/2015/01/22/1146/hololens-gbr8.jpg
Salah satu staf Microsoft mendemokan penggunaan HoloLens di panggung.


Sunday, November 23, 2014

Merayap di Dinding Seperti Spiderman? Sekarang Bisa

Merayap di Dinding Seperti Spiderman? Sekarang Bisa 

Siapa bilang aksi agen Ethan Hunt di film Mission Impossible atau Spiderman merayap di dinding gedung hanya cerita khayalan belaka. Peneliti di Universitas Stanford, California, sudah menciptakan semacam bantalan yang membuat kita bisa merayap di dinding seperti kadal atau laba-laba.

Dengan bantalan seukuran tangan itu, siapapun bisa merayap di dinding tanpa takut terjatuh. Syaratnya, bobot badannya tak lebih dari 70 kilogram. Tak hanya di tembok, merayap naik di dinding kaca pun bisa. 

Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkapkan rahasia di kaki kadal dan sejenisnya (termasuk cicak), yang bisa berjalan atau merayap di dinding tanpa terjatuh. Tapi tak banyak yang berhasil. 

Rahasia itu pula yang ingin diungkapkan peneliti di Stanford, yang mendapat bantuan dari Badan Proyek Riset Pertahanan Amerika Serikat (DARPA).  Mereka mempublikasikan penelitiannya di jurnal Royal Society Interface.

Mereka telah menciptakan bantalan silikon seukuran tangan, yang mampu merekat dengan kuat di permukaan apapun. Bantalan itu meniru cara gaya tarik dan tolak antara molekul yang disebut gaya van der Waals, yang dimultiplikasi di sepanjang rambut-rambut tipis di permukaan kaki kadal, sehingga mereka bisa merekat di permukaan apapun.

Peneliti Stanford menerapkannya dengan menciptakan bantalan kecil yang dinamai microwedges, yang mampu mengeluarkan gaya van der Waals. Mereka malah bilang bisa membuat perekat kering yang lebih efisien ketimbang kaki kadal.

Pada percobaan, seorang mahasiswa berbobot 69 kilogram mampu merambati sebuah dinding kaca vertikal setinggi 3,6 meter mengenakan bantalan silikon itu di masing-masing tangan. Dia melakukannya ratusan kali tanpa terjatuh.

Di awal tahun ini, DARPA pernah mendemonstrasikan perangkat memanjat yang bisa membuat orang merambat di dinding kaca tipis. Tapi informasi lebih detil soal perangkat itu dan pengembangannya, masih dirahasiakan.

Teknologi ini bisa dipakai untuk menghasilkan perangkat yang mampu merekatkan panel-panel surya raksasa dan objek-objek lain tanpa perlu memakai lem berbahan kimiawi.


Friday, November 21, 2014

Ilmuwan Temukan Baterai Panjang Umur

Ilmuwan Temukan Baterai Panjang Umur 

Umumnya, sebuah baterai ponsel hanya bisa bertahan normal selama pemakaian 2-3 tahun. Namun seorang ilmuwan berhasil menemukan baterai yang bisa dipakai sampai 20 tahun.

Teknologi itu ditemukan sekelompok peneliti dari Nanyang Technological University Singapura yang dimpimpin Profesor Chen Xiaodong. Bukan cuma tahan lama, tapi juga durasi pengisian ulang yang lebih cepat. Istilah ini akrab disebut fast charging.

Dengan pengisian daya selama 2 menit, baterai tersebut bisa terisi hingga 70 persen. Seperi dikutip CNN Indonesia dari siaran pers, Rabu (15/10).

"Dengan teknologi kami, mobil elektrik bisa meningkatkan jarak tempuhnya secara signifikan hanya dengan lima menit pengisian ulang," kata Xiaodong.

Kunci baterai itu terletak pada stuktrurnya yang tidak menggunakan bahan grafit seperti baterai saat ini. Para peneliti menggantinya dengan gel titanium dioksida yang biasa dipakai sebagai zat tambahan makanan atau krim tabir surya.

Gel titanium diklaim lebih murah, dan lebih mudah ditemukan. Pada baterai zat ini diletakan di dalam tabung berukuran sangat kecil (nanotube) yang konon seribu kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Sulit dibayangkan.

Hingga kini teknologi baterai tersebut masih dikembangkan, dan diperkirakan bisa mulai dikomersilkan sekitar dua tahun mendatang. 


Ilmuwan Ciptakan Alat Pembaca Pikiran

Ilmuwan Ciptakan Alat Pembaca Pikiran 

Layaknya konsep telepati, tim peneliti dari University of Washington, Amerika Serikat berhasil menghubungkan otak dari dua orang dan mampu untuk berkomunikasi tanpa bicara.

"Studi baru ini menciptakan paradigma pertemuan otak ke otak, yang awalnya hanya demonstrasi biasa menjadi teknologi berkonsep penyampaian," ujar profesor dari University of Washington Andrea Stocco.

Studi baru yang mengikutsertakan enam orang berpasangan, memindahkan sinyal dari otak satu orang melalui internet untuk mengontrol pergerakan tangan pasangannya yang berada di radius 800 meter.

Agar berhasil, para peneliti memasangkan mesin electroencephalography (EEG) pada satu orang (si pengirim) di tiap pasangan untuk membaca aktivitas otak mereka.

Gelombang otak mereka kemudian diubah menjadi 'nadi' elektris dan mengirimnya melalui web kepada pasangannya (si penerima) yang sudah menggunakan semacam topi renang, lengkap dengan belitan stimulasi magnet transkranial di bagian otak yang mengatur pergerakan tangan.

Dengan kata lain, pikiran si pengirim dapat ditafsirkan oleh si penerima menjadi pergerakan tangan dalam hitungan detik.

Dalam percobaan tersebut, tiga pengirim sedang bermain game di komputer dimana mereka harus melempar meriam untuk menghadang roket. Mereka tidak bisa melakukan itu semua, jadi mereka cukup memikirkan apa yang harus dilakukan dan sinyal tersebut sampai ke si penerima.

Para penerima tidak bisa melihat permainan tersebut, tapi tangan mereka melayang-layang di atas alas sentuh, seakan-akan mereka sedang melempari meriam tersebut sesuai pikiran si pengirim.

Tim peneliti kemudian didanai US$ 1 juta untuk mengembangkan koneksi otak lebih mendalam lagi agar mereka dapat menyampaikan gambaran dan informasi dari otak ke otak.

Mereka berharap nantinya dapat memantau pilot pesawat terbang yang sedang mengantuk dan menstimulasi otaknya menggunakan koneksi tersebut.

Koneksi otak ini bukan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya, peneliti dari Harvard Medical School, Starlab Barcelona dari Spanyol, dan Axilum Robotics dari Perancis bekerjasama dalam pengiriman pesan antar otak dengan jarak yang fantastis, yaitu dari India ke Perancis.